![]() |
Ialah Gus Mus atau yang memiliki nama lengkap K.H. Ahmad Mustofa Bisri. Kepiawaian Gus Mus dalam menulis sudah terlatih sejak kecil. Beragam jenis tulisan telah lahir dari goresan tangannya yang melebur dengan isi pemikirannya, termasuk salah satunya ialah bentuk puisi dengan isi bermakna
Puisi yang ditulisnya tak hanya berkaitan dengan politik dan Indonesia namun juga tentang kehidupan, cinta, bahkan agama. Tulisan dan puisi Gus Mus pun telah diterbitkan di beberapa media cetak nasional dan diantaranya turut mendapat pujian serta kritik.
Puisi Gus Mus yang Paling Menyentuh
Puisi Gus Mus terbilang sederhana dengan makna yang cukup mampu untuk menyentil pembacanya. Lalu, apa saja puisi Gus Mus yang terbaik itu? Berikut informasinya.1. Dalam Tahiat
![]() |
Gus Mus Dalam Tahiat |
Puisi Gus Mus yang satu ini menyangkut tentang keagamaan. Baitnya cukup singkat dan hanya terdiri dari satu bait dengan tujuh baris didalamnya. Diksi yang dipilih pun sederhana dan gampang ditelaah.
Baca Juga: 7 Puisi Chairil Anwar yang Paling Menyentuh
Dalam Tahiat menceritakan akan pergulatan batin seseorang kepada Sang Pencipta yang sedang khusyuk beribadah. Ia juga ingin mendapatkan jeda untuk memanjatkan doa pasa salah satu gerakan solat dalam Islam.
2. Ibu
![]() |
Gus Mus Ibu |
Figur ibu merupakan sosok yang menjadi panutan oleh setiap anak. Perjuangan yang dihadapi oleh seorang ibu sangat besar, mulai dari melahirkan hingga membesarkan anak sampai dewasa dan sukses, serta sekaligus menjadi istri bagi para suami.
Dari perjuangan seorang ibu ini, pada tahun 1414 Gus Mus menuliskan sebuah puisi yang berjudul Ibu. Puisi ini menceritakan bagaimana kuat dan tegarnya seorang ibu tanpa kenal lelah dengan berbagai pilu dan perjuangan keras yang tak pernah beliau pedulikan.
Beliau mengajak pembacanya untuk ingat akan perjuangan ibu kita masing-masing serta menyayangi dan mendoakannya selalu.
3. Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana
Puisi Gus Mus yang berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana sempat santer heboh terdengar. Pasalnya seorang Ganjar Pranowo membacakannya pada tahun 2018 lalu di suatu acara sebuah stasiun televisi.
Makna dari puisi ini sebenarnya adalah tentang polemik sikap yang sebenarnya harus dimiliki oleh para petinggi negeri ini. Sebuah bentuk kritikan dari Gus Mus yang menyindir akan ketidaktegasan mereka. Dari setiap baitnya, tampak jelas Gus Mus menggunakan kalimat yang seolah-olah masyarakat diwajibkan melakukan sesuai aturan namun tetap saja masih disalahkan.
Atas makna puisi ini, banyak masyarakat yang suka membawakannya pada saat acara-acara tertentu, termasuk para mahasiswa yang jika ingin berorasi atau lainnya. Dengan penggunaan kata-kata yang sederhana, makna dari puisi ini cukup mudah dipahami sekalipun bagi kaum awam.
4. Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat
![]() |
Penggalan Kalau Kau Sibuk, Kapan Kau Sempat |
Judul puisi satu ini terkesan seperti sebuah pertanyaan dan agak mengandung sindiran yang terdengar demi untuk memotivasi. Tak jauh berbeda dengan puisinya yang dibahas sebelumnya yaitu Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, puisi ini juga menggunakan kalimat sederhana di setiap baitnya.
Uniknya, kata awal di setiap barisnya dimulai dengan "Kalau kau sibuk" dan "kapan kau sempat" secara bergantian, persis seperti judul puisinya.
Dari puisi ini, Beliau seakan ingin mengingatkan para pembacanya untuk menyempatkan diri pada hal-hal lain dan jangan sibuk pada suatu rutinitas dan lupa akan kebahagiaan diri maupun keluarga.
5. Kembalikan Makna Pancasila
![]() |
Penggalan Kembalikan Makna Pancasila |
Puisi yang ditulis pada zaman reformasi yaitu pada tahun 1998 ini melihat dari bagaimana situasi yang terjadi pada saat itu. Tulisan sastra ini menjadi bagian dari protesnya yang dilatarbelakangi dengan ketidaksesuaian sila dengan fakta serta berharap puisi akan mendukung dan sebagai penyemangat dari bagian pemberontakan.
6. Kepada Penyair
Lagi-lagi Gus Mus menulis puisi yang maknanya bersinggungan dengan keagamaan. Tak heran mengapa ia menuliskan puisi jenis ini jika dikaitkan dengan pengalaman serta perjalanan karir dan pendidikan beliau yang mempengaruhinya.Pemilihan diksi yang digunakan pada puisi berjudul Kepada Penyair ini banyak menggunakan bagian dari alam sekitar seperti gunung, awan dan sebagainya. Maknanya pun lekat dengan sarat akan pengingat kita sebagai makhluk Tuhan untuk jangan lupa tetap beribadah dan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
7. Rasanya Baru Kemarin
![]() |
Penggalan Rasanya Baru Kemarin |
Puisi ini ditulis Gus Mus untuk Indonesia dengan menceritakan tentang Kemerdekaan Indonesia yang terasa baru saja terjadi seperti seharu sebelumnya. Sejak terbit pertama kalinya pada tahun 1995, Gus Mus sudah beberapa kali melakukan revisi pada bait-bait puisinya. Selain karena agar terdengar indah, tetapi juga menyesuaikan dengan keadaan dan perkembangan jaman.
Baca Juga: 7 Puisi Terbaik Sapardi Djoko Darmono
Bukan tanpa landasan Gus Mus menulis puisi yang bermakna teguran, kritikan maupun sebagai pengingat. Terlebih lagi dengan latar belakangnya yang sebagai ulama. Dari 7 puisi Gus Mus diatas, adakah yang menyadarkan pemikiran Anda dan sependapat dengan makna tulisan beliau?
This post have 0 komentar